Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Olahraga

Waspada! Ini Alasan Stretching Statis Sebelum Pemanasan Justru Merugikan

48
×

Waspada! Ini Alasan Stretching Statis Sebelum Pemanasan Justru Merugikan

Sebarkan artikel ini
Waspada! Ini Alasan Stretching Statis Sebelum Pemanasan Justru Merugikan
Example 468x60

Melakukan stretching statis sebelum memulai olahraga terlihat seperti kebiasaan yang baik. Banyak orang percaya bahwa ini bisa mencegah cedera dan membuat otot lebih siap. Namun, stretching statis justru bukan pilihan terbaik saat tubuh belum aktif secara menyeluruh.

Beberapa pelatih bahkan menyebut stretching statis saat tubuh masih dingin bisa menghambat performa. Lebih dari itu, stretching statis cenderung memperlambat respons otot terhadap gerakan cepat. Oleh karena itu, pemanasan aktif justru jauh lebih direkomendasikan.

Example 300x600

Jika kamu termasuk orang yang selalu melakukan gerakan statis sebelum lari atau angkat beban, saatnya mengevaluasi ulang. Pasalnya, aktivitas tersebut lebih cocok dilakukan setelah olahraga, bukan sebelumnya.

Banyak studi menyebutkan bahwa otot yang ditarik secara paksa tanpa sirkulasi darah yang cukup akan lebih rentan mengalami robekan mikro. Maka dari itu, memahami perbedaan antara stretching dinamis dan stretching statis menjadi penting untuk efektivitas olahraga.

Waspada! Ini Alasan Stretching Statis Sebelum Pemanasan Justru Merugikan

Untuk mengetahui lebih dalam, mari bahas beberapa alasan mengapa stretching statis sebelum pemanasan dianggap sebagai tindakan yang sia-sia saat olahraga.

1. Penghambat Performa Fisik Saat Latihan

Saat kamu memulai sesi latihan dengan stretching statis, aliran darah ke otot belum optimal. Hal ini membuat otot menjadi kurang siap melakukan gerakan eksplosif.

Alih-alih meningkatkan performa, justru banyak atlet merasa tubuh mereka menjadi kaku. Dalam beberapa kasus, hal ini menyebabkan kelelahan otot yang lebih cepat.

Banyak pelatih kekuatan dan kebugaran kini menyarankan agar pemanasan aktif seperti joging ringan atau dynamic warm-up dilakukan terlebih dahulu.

Selain itu, melakukan gerakan statis sebelum latihan mengganggu kontraksi otot maksimal. Ini berdampak pada latihan seperti sprint, angkat beban, hingga permainan bola.

Dengan kata lain, performa fisik justru akan menurun jika stretching dilakukan dalam kondisi tubuh belum siap.

2. Meningkatkan Risiko Cedera Otot

Berlawanan dengan anggapan umum, stretching statis sebelum pemanasan tidak mengurangi risiko cedera. Bahkan, risiko cedera bisa meningkat jika otot belum dialiri darah dan dipaksa meregang.

Cedera seperti tarikan otot atau strain sering terjadi saat peregangan dilakukan sebelum sirkulasi darah meningkat.

Lebih buruk lagi, jika dilakukan berlebihan, bisa terjadi robekan pada jaringan otot yang halus.

Para fisioterapis menyarankan stretching statis dilakukan setelah latihan, karena saat itu otot dalam kondisi hangat dan lebih lentur.

Kesalahan dalam urutan ini dapat membuat sesi latihan yang seharusnya menyegarkan menjadi bumerang yang menyakitkan.

3. Tidak Efektif untuk Meningkatkan Mobilitas Awal

Salah satu tujuan utama pemanasan adalah meningkatkan mobilitas dan kelenturan tubuh agar siap bergerak. Namun, stretching statis tidak meningkatkan suhu otot atau denyut jantung.

Gerakan lambat saat stretching justru menghambat pemanasan alami tubuh. Hal ini membuat tubuh tetap berada dalam kondisi “dingin”.

Akhirnya, tubuh tidak merespons optimal terhadap gerakan-gerakan eksplosif seperti lari cepat, melompat, atau angkat beban.

Dibandingkan itu, dynamic stretching lebih efektif untuk meningkatkan mobilitas karena melibatkan gerakan aktif seperti lunges, arm swings, atau high knees.

Karena itu, jika kamu ingin meningkatkan fleksibilitas dan kelincahan sebelum berolahraga, gunakanlah metode yang lebih tepat.

4. Menurunkan Aktivitas Neuromuskular

Salah satu efek jangka pendek dari stretching statis adalah penurunan komunikasi antara saraf dan otot. Proses ini dikenal dengan istilah penurunan aktivitas neuromuskular.

Artinya, saat kamu stretching statis sebelum berolahraga, otot akan menjadi kurang responsif terhadap rangsangan.

Hal ini berdampak besar terhadap kecepatan, kekuatan, dan koordinasi tubuh.

Penurunan aktivitas ini bersifat sementara, namun cukup signifikan dalam konteks olahraga kompetitif atau latihan intensif.

Inilah sebabnya para pelatih profesional dan atlet elit menghindari stretching statis sebelum pertandingan atau sesi latihan berat.

5. Efek Psikologis yang Menyesatkan

Banyak orang merasa “siap” secara mental setelah melakukan stretching karena mereka mengasosiasikannya dengan pemanasan. Namun, ini bisa menyesatkan.

Perasaan siap secara psikologis ini tidak didukung oleh kesiapan fisiologis otot dan sistem kardiovaskular.

Akibatnya, seseorang merasa sudah siap padahal tubuhnya belum. Hal ini bisa meningkatkan risiko melakukan gerakan yang terlalu cepat dan akhirnya cedera.

Untuk itu, penting mengganti rutinitas pemanasan dengan aktivitas yang benar-benar mengaktifkan tubuh, bukan hanya menenangkan pikiran.

Menggabungkan pemanasan dinamis dengan teknik pernapasan atau visualisasi lebih baik daripada stretching statis semata.

Kesimpulan

Jadi, apakah kamu masih melakukan stretching statis sebelum pemanasan? Jika ya, sekarang saatnya ubah kebiasaan tersebut. Bagikan artikel ini jika kamu peduli dengan kualitas latihan dan keselamatan olahraga teman-temanmu!

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *