Di tengah gaya hidup digital saat ini, banyak orang melakukan olahraga ponsel sebagai rutinitas multitasking. Maksudnya, mereka berolahraga sambil tetap menggenggam ponsel, entah untuk membalas pesan, membuka media sosial, atau menonton video. Sekilas, hal ini terlihat efisien karena bisa tetap produktif meski sedang latihan fisik.
Namun, jika ditelaah lebih jauh, olahraga sambil main ponsel sebenarnya justru mengurangi efektivitas olahraga itu sendiri. Saat perhatian terbagi antara aktivitas fisik dan layar ponsel, tubuh tidak bisa bekerja secara maksimal. Fokus menjadi terganggu, postur tubuh tidak terkendali, dan risiko cedera pun meningkat.
Kebiasaan ini juga mengurangi intensitas latihan. Karena perhatian tidak penuh, gerakan yang seharusnya dilakukan dengan tenaga dan konsentrasi optimal menjadi setengah-setengah. Ini menjadikan olahraga ponsel sebagai bentuk aktivitas fisik yang tidak optimal dan bahkan bisa menjadi kontraproduktif.
Lebih dari itu, penggunaan ponsel saat olahraga juga memperbesar kemungkinan seseorang untuk cepat merasa lelah. Hal ini karena otak dipaksa bekerja ganda: menyerap informasi dari layar sekaligus mengatur koordinasi tubuh saat latihan. Kombinasi ini tidak hanya melelahkan tetapi juga tidak memberikan hasil yang diharapkan dari sebuah sesi latihan.
Oleh sebab itu, mari kita bahas lebih dalam tentang berbagai aspek yang membuat olahraga sambil main ponsel menjadi kebiasaan yang sebaiknya dihindari.
Gangguan Fokus Saat Latihan
Salah satu masalah utama dari olahraga ponsel adalah terganggunya fokus selama sesi latihan. Saat mata tertuju pada layar, otak tidak bisa secara penuh mengoordinasikan gerakan tubuh. Akibatnya, banyak gerakan yang dilakukan secara asal dan tidak tepat sasaran.
Selain itu, tubuh juga kehilangan respons yang cepat terhadap perubahan gerakan atau posisi. Misalnya, ketika sedang berlari di treadmill sambil mengecek notifikasi, keseimbangan dapat terganggu. Bahkan, banyak kasus cedera ringan hingga serius terjadi karena kurangnya fokus selama berolahraga.
Konsentrasi yang terpecah ini juga berdampak pada kualitas repetisi gerakan. Latihan yang membutuhkan pengulangan seperti push-up atau squat akan jauh lebih efektif jika dilakukan dengan kesadaran penuh. Sayangnya, ketika perhatian terbagi, kualitas gerakan menurun dan manfaat olahraga pun berkurang.
Fokus adalah kunci utama dalam latihan fisik. Oleh karena itu, kebiasaan membawa ponsel selama olahraga justru melemahkan tujuan utama dari kegiatan tersebut.
Menurunnya Intensitas Gerakan
Masalah lain dari olahraga sambil main ponsel adalah berkurangnya intensitas latihan. Saat seseorang bermain HP, gerakan tubuh biasanya melambat secara signifikan. Ini terjadi karena otak memprioritaskan aktivitas di layar daripada aktivitas fisik yang sedang dilakukan.
Padahal, dalam olahraga, konsistensi dan intensitas sangat penting. Bila intensitasnya menurun, maka jumlah kalori yang terbakar pun otomatis ikut turun. Akibatnya, latihan yang dilakukan tidak mampu membakar lemak secara efektif.
Lebih buruk lagi, tubuh bisa cepat beradaptasi dengan pola latihan yang tidak menantang. Ini membuat proses pembentukan otot dan peningkatan kebugaran menjadi stagnan. Dengan kata lain, olahraga ponsel hanya memberi ilusi bahwa kita sudah berusaha keras, padahal tidak.
Jadi, agar hasil latihan bisa maksimal, sangat penting untuk meninggalkan ponsel saat berolahraga.
Postur Tubuh Menjadi Tidak Ideal
Olahraga ponsel juga sangat berpengaruh pada postur tubuh. Saat mata terus menunduk ke layar, leher dan punggung ikut menyesuaikan. Hal ini bisa menyebabkan forward head posture atau yang dikenal sebagai sindrom kepala maju. Lama-kelamaan, kondisi ini dapat memicu nyeri otot, kelelahan, bahkan cedera leher.
Ketika sedang melakukan gerakan seperti plank atau push-up dan tetap menggunakan ponsel, maka postur tubuh akan sangat terganggu. Bahkan, banyak yang tanpa sadar memiringkan tubuh hanya untuk melihat layar. Ini sangat membahayakan, terutama jika dilakukan secara rutin dalam jangka panjang.
Idealnya, postur tubuh selama olahraga harus dijaga tetap stabil, simetris, dan aktif. Ketika ponsel hadir dalam latihan, semua prinsip postural tersebut sulit dipertahankan.
Durasi Latihan Jadi Tidak Efektif
Durasi olahraga memang penting, tetapi durasi yang berkualitas jauh lebih penting. Banyak orang merasa sudah berolahraga selama satu jam, padahal 30% waktu dihabiskan untuk membuka ponsel. Hal ini tentu membuat sesi latihan menjadi tidak efektif.
Sebagai contoh, saat jeda antar set angkat beban, banyak yang menggunakan waktu istirahat untuk membuka media sosial. Akibatnya, waktu istirahat menjadi terlalu lama. Padahal, dalam prinsip latihan, waktu istirahat harus terukur agar otot tetap berada dalam tekanan optimal.
Olahraga ponsel membuat waktu terasa terpakai, padahal kualitas latihan menurun secara signifikan. Maka dari itu, penting untuk memanfaatkan waktu olahraga secara penuh tanpa gangguan digital.
Risiko Cedera Meningkat
Kombinasi antara gerakan fisik dan penggunaan ponsel dapat memicu risiko cedera yang lebih tinggi. Misalnya, saat lari di jalan umum sambil mengetik pesan, konsentrasi terpecah, dan langkah kaki bisa melenceng. Hal ini bisa menyebabkan jatuh, terkilir, atau bahkan kecelakaan lalu lintas.
Risiko cedera juga meningkat saat seseorang berolahraga di gym namun terlalu sibuk dengan ponsel. Misalnya saat mengangkat beban sambil menerima panggilan telepon, posisi tangan bisa tidak stabil dan berujung pada cedera otot atau tulang.
Tubuh membutuhkan koordinasi penuh selama olahraga. Ketika diganggu oleh perhatian lain, maka risiko kesalahan gerakan atau hilangnya keseimbangan semakin besar.
Kesimpulan
Jangan biarkan latihan Anda sia-sia hanya karena tak bisa lepas dari ponsel. Fokuslah pada tubuh, bukan layar. Yuk, bagikan artikel ini jika Anda sepakat dan bantu orang lain lebih sadar akan kebiasaan olahraga yang benar!



















