Klaim Korea Utara Menang 11-0 atas Brasil Picu Sorotan Dunia
AyoBola.com – Korea Utara kembali menjadi bahan pembicaraan publik global setelah klaim menang 11-0 atas Brasil di Piala Dunia mencuat dan tersebar luas. Meski kenyataannya tidak pernah ada pertandingan tersebut, narasi ini terus digunakan oleh pihak rezim untuk membangkitkan semangat nasionalisme rakyatnya. Dalam dunia di mana informasi bisa diakses dalam hitungan detik, muncul pertanyaan: mengapa masyarakat Korea Utara tetap mempercayai berita semacam ini?
Propaganda Korea Utara memang dikenal unik dan sangat terstruktur. Pemerintahnya mengontrol penuh alur informasi sehingga hanya narasi yang memperkuat citra pemimpin dan negara yang disiarkan. Dalam konteks ini, klaim kemenangan besar atas negara sekelas Brasil, yang memiliki sejarah panjang di dunia sepak bola, bukan hanya soal kebohongan publik biasa. Lebih dari itu, ini adalah simbol dari mekanisme kontrol mental masyarakat.
Banyak yang mempertanyakan logika di balik kemenangan 11-0 atas Brasil. Namun, logika itu bukan hal penting dalam konteks propaganda. Yang utama adalah membangun narasi kejayaan, memberikan rakyat sesuatu untuk dipercaya, dan memelihara loyalitas terhadap negara. Keberhasilan propaganda semacam ini bahkan bisa membuat sebagian rakyat menganggap negaranya adalah poros kekuatan dunia.
Dalam artikel ini, kita akan mengulas lebih dalam bagaimana propaganda ini dibangun, peran media internal Korea Utara, serta dampaknya terhadap masyarakat. Kita juga akan melihat bagaimana narasi kemenangan ini dijadikan alat politik dalam membentuk persepsi publik di dalam negeri.
1. Sejarah Panjang Propaganda Korea Utara yang Disusun Rapi
Propaganda di Korea Utara bukan hal baru. Sejak masa Kim Il-sung, pemerintah telah mengembangkan sistem informasi yang tertutup dan satu arah. Media massa dikendalikan langsung oleh negara, dan informasi yang dianggap merugikan otomatis disensor.
Propaganda digunakan untuk memanipulasi opini masyarakat sejak usia dini. Anak-anak diajarkan bahwa Korea Utara adalah negara paling kuat, bahkan lebih unggul dari negara-negara barat. Di sinilah awal dari doktrin bahwa kemenangan atas Brasil bukanlah hal mustahil.
Kemenangan 11-0 atas Brasil dijadikan sebagai contoh keberhasilan negara dalam segala aspek, termasuk olahraga. Padahal, tidak ada catatan resmi FIFA atau lembaga sepak bola dunia lainnya yang membenarkan peristiwa tersebut.
Dengan sistem pendidikan yang sangat terstruktur, pemerintah Korea Utara bisa memastikan bahwa narasi-narasi fiktif tetap dipercaya generasi demi generasi.
2. Strategi Media Pemerintah Membangun Mitos Nasional
Media resmi Korea Utara seperti Korean Central News Agency (KCNA) memainkan peran penting dalam membentuk opini publik. Mereka tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk imajinasi kolektif tentang kehebatan negara.
Berita seperti “Korea Utara menang 11-0 atas Brasil” dibuat dengan bahasa yang sangat meyakinkan dan dramatis. Tayangan ulang pertandingan yang dimanipulasi secara visual bahkan dibuat untuk memperkuat cerita tersebut.
Strategi ini tidak berdiri sendiri. Media luar tidak bisa diakses secara bebas, sehingga rakyat tidak bisa memverifikasi informasi. Inilah yang membuat propaganda tersebut sangat efektif dan berbahaya.
Setiap narasi yang disiarkan memiliki tujuan politis yang jelas, dan klaim sepak bola ini hanyalah salah satu bentuknya.
3. Psikologi Massa dalam Sistem Informasi Tertutup
Mengapa masyarakat percaya bahwa tim nasional mereka mengalahkan Brasil dengan skor luar biasa? Jawabannya bisa dilihat dari sisi psikologi sosial. Dalam sistem tertutup, kebenaran menjadi relatif terhadap apa yang disiarkan oleh otoritas.
Jika seluruh komunitas mempercayai sesuatu, maka individu akan merasa tertekan untuk mengikuti arus. Bahkan jika ada keraguan, tekanan sosial dan ancaman dari negara membuat orang memilih diam atau pura-pura percaya.
Dalam konteks ini, klaim menang 11-0 atas Brasil bukan hanya disampaikan, tapi dibentuk menjadi semacam “kenyataan sosial” yang harus diterima bersama-sama.
Keyakinan terhadap kebenaran cerita tersebut bukan hanya karena mereka tertipu, tetapi karena mereka tidak memiliki pilihan lain untuk berpikir berbeda.
4. Pengaruh Cerita Fiktif terhadap Rasa Nasionalisme
Pemerintah Korea Utara paham betul bahwa semangat nasionalisme sangat ampuh untuk mengendalikan rakyat. Oleh karena itu, cerita kemenangan besar seperti ini memiliki efek psikologis yang kuat dalam memperkuat loyalitas masyarakat terhadap rezim.
Cerita fiktif seperti ini menciptakan rasa bangga dan percaya diri, meskipun tidak berdasar. Masyarakat akan merasa mereka adalah bagian dari negara yang hebat dan tak terkalahkan.
Dalam jangka panjang, propaganda semacam ini menciptakan identitas nasional yang kuat, meskipun dibangun di atas informasi yang dimanipulasi.
Narasi seperti ini juga dipakai untuk menutupi kekurangan pemerintah dalam aspek ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan rakyat. Mereka dialihkan fokusnya kepada “keberhasilan besar” yang sejatinya tidak pernah terjadi.
5. Bagaimana Dunia Menanggapi Propaganda Semacam Ini
Di luar negeri, banyak media menyindir dan mengkritik propaganda Korea Utara ini. Namun, karena terbatasnya akses media luar ke dalam negeri Korea Utara, kritik tersebut jarang sampai ke telinga rakyat biasa.
Media barat seperti BBC atau Reuters telah berkali-kali menelusuri dan mengklarifikasi bahwa pertandingan dengan skor seperti itu tidak pernah terjadi. Namun, sikap dunia terhadap propaganda ini lebih kepada pengamatan dan sindiran, daripada aksi konkret.
Kritik internasional terhadap propaganda semacam ini menjadi sorotan bagi dunia, terutama dalam hal bagaimana informasi bisa digunakan untuk mempermainkan persepsi publik.
Fenomena ini membuktikan pentingnya kebebasan pers dan hak akses terhadap informasi yang objektif.
6. Pelajaran Penting bagi Negara Lain tentang Kebebasan Informasi
Dari kasus ini, dunia bisa belajar bahwa sistem informasi yang bebas dan terbuka sangat penting untuk menjaga transparansi dan kebenaran. Jika informasi dikendalikan oleh satu pihak, maka realitas pun bisa direkayasa.
Propaganda ekstrem seperti yang dilakukan Korea Utara tidak akan terjadi di negara dengan media yang independen. Oleh karena itu, pelajaran penting bagi negara-negara berkembang adalah memperkuat kebebasan pers dan literasi media di masyarakat.
Jangan sampai masyarakat hanya menjadi objek informasi, tetapi harus diberi ruang untuk menjadi subjek yang berpikir kritis dan mandiri.
Propaganda tidak hanya soal bohong, tapi soal kuasa atas persepsi publik. Dan inilah yang membuatnya sangat berbahaya.
7. Narasi Olahraga Sebagai Alat Politik Global
Penggunaan olahraga sebagai alat propaganda bukan hanya terjadi di Korea Utara. Negara lain juga sering memanfaatkan momen olahraga untuk membangun citra politik. Namun, perbedaannya adalah, kebanyakan negara lain tidak sampai memalsukan hasil pertandingan.
Di Korea Utara, olahraga dijadikan simbol kekuatan negara. Kemenangan atas Brasil diklaim sebagai bukti bahwa Korea Utara bisa unggul dalam segala bidang, termasuk melawan negara-negara besar.
Cerita ini memperlihatkan bagaimana narasi olahraga bisa dimanfaatkan untuk agenda politik yang lebih besar. Hal ini perlu menjadi perhatian global agar dunia olahraga tidak tercemari oleh kepentingan politik sempit.
Kesimpulan
Mitos kemenangan 11-0 atas Brasil oleh Korea Utara adalah contoh ekstrem dari bagaimana propaganda bisa mengontrol pikiran rakyat. Cerita ini bukan sekadar fiksi, tapi instrumen politik yang berfungsi membentuk persepsi dan loyalitas publik. Bagaimana menurut Anda? Apakah propaganda seperti ini bisa terjadi di negara lain?



















