Rene Higuita: Kiper Nyentrik Kolombia dengan Aksi Kalajengking
AyoBola.com – Dalam sejarah sepak bola, tak banyak pemain yang bisa dikenang hanya dari satu aksi. Namun, Rene Higuita, kiper legendaris Kolombia, berhasil mencuri perhatian dunia dengan tendangan kalajengking-nya yang ikonik. Aksi ini bukan hanya simbol kepercayaan diri, tapi juga menunjukkan betapa gila dan beraninya Higuita bermain di lapangan hijau.
Ia bukan sekadar penjaga gawang biasa. Rene Higuita dikenal karena gaya bermainnya yang nyentrik, sering maju ke tengah lapangan, bahkan kadang ikut menyerang. Hal ini membuatnya dijuluki sebagai kiper gila Kolombia, sebutan yang ia banggakan dan justru menjadi identitas kuat dalam kariernya.
Higuita tampil beda dari kebanyakan kiper pada zamannya. Ia berani menggiring bola, menggiring pemain lawan, dan melakukan aksi-aksi spektakuler. Tak heran jika banyak orang menyebutnya sebagai pelopor “sweeper-keeper” jauh sebelum Manuel Neuer memperkenalkan gaya itu di era modern.
Keberaniannya itu bukan tanpa risiko. Beberapa kali ia melakukan blunder fatal, salah satunya di Piala Dunia 1990. Namun semua itu tidak mengurangi pesona dan karisma yang ia bawa di setiap pertandingan. Justru kesalahan-kesalahan itulah yang membuatnya semakin dicintai dan dikenang oleh penggemar sepak bola dunia.
Untuk mengenal lebih dekat sosok nyentrik ini, mari kita bahas lebih dalam berbagai aspek dari karier Rene Higuita, termasuk asal-usul julukannya, aksi legendarisnya, hingga warisan yang ia tinggalkan dalam dunia sepak bola.
Asal Usul Julukan “Kiper Gila” Kolombia
Julukan kiper gila Kolombia bukan muncul begitu saja. Higuita kerap tampil penuh kejutan, keluar dari peran tradisional penjaga gawang yang pasif. Ia lebih suka mengontrol bola, mengatur serangan, bahkan tak jarang menggiring bola hingga melewati garis tengah lapangan.
Di Kolombia, aksi-aksi gilanya awalnya mengundang kritik. Banyak yang menganggapnya membahayakan tim. Namun seiring waktu, publik mulai menyadari bahwa gaya bermainnya adalah bagian dari karakter unik yang memperkuat identitas sepak bola Kolombia itu sendiri.
Higuita juga tak sungkan mengatakan bahwa dirinya lebih dari sekadar kiper. Ia melihat sepak bola sebagai seni pertunjukan, dan lapangan sebagai panggung tempat ia mengekspresikan dirinya. Julukan “gila” bukan hinaan baginya, melainkan pengakuan akan keberanian yang jarang dimiliki pemain lain.
Gaya bermainnya bahkan menjadi inspirasi bagi generasi muda di Kolombia. Banyak anak-anak yang bermimpi menjadi kiper karena Higuita, bukan karena ingin sekadar menjaga gawang, tapi karena ingin menjadi seperti dia: berani, kreatif, dan beda dari yang lain.
Tidak hanya dalam pertandingan resmi, bahkan dalam laga persahabatan atau pertandingan amal, Higuita tetap mempertahankan ciri khasnya. Ia tak pernah setengah-setengah menunjukkan siapa dirinya. Baginya, sepak bola adalah panggilan jiwa.
Gaya Nyentrik Rene Higuita di Atas Lapangan
Saat pemain lain fokus menjaga posisi, Rene Higuita justru membawa konsep baru dalam dunia penjaga gawang: bermain seperti gelandang. Ia kerap berada di luar kotak penalti, bahkan melakukan dribble untuk melewati lawan. Hal ini membuatnya sering dibandingkan dengan pemain lapangan, bukan kiper.
Bukan hanya aksinya yang berbeda, penampilan fisiknya pun mencolok. Rambut gondrong keriting, ekspresi wajah penuh percaya diri, dan gerakan tubuhnya di lapangan seperti sedang menari. Inilah alasan mengapa Higuita disebut sebagai pemain dengan gaya nyentrik yang luar biasa.
Tidak sedikit pelatih dan wasit yang dibuat pusing oleh aksinya. Bahkan rekan satu timnya pun kadang terkejut. Namun anehnya, banyak pula yang terinspirasi. Ia menunjukkan bahwa dalam dunia olahraga yang penuh aturan, masih ada ruang untuk kebebasan berekspresi.
Gaya nyentrik itu juga tak lepas dari latar belakang hidupnya. Terlahir dari keluarga miskin di Medellín, Higuita terbiasa hidup penuh tantangan. Jalan hidup yang keras membentuk mentalitasnya yang tak mudah tunduk pada aturan baku.
Karena itu, gaya bermain Higuita bukan sekadar pilihan taktik. Ia adalah refleksi dari perjalanan hidupnya, semangat melawan arus, dan keberanian menjadi diri sendiri.
Aksi Tendangan Kalajengking yang Mendunia
Pada tahun 1995, dalam laga persahabatan antara Kolombia dan Inggris di Wembley, dunia menyaksikan salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola: tendangan kalajengking. Saat itu, bola melambung ke arah gawang Kolombia, dan bukannya menangkapnya secara biasa, Rene Higuita melompat ke depan dan menendang bola dengan tumitnya ke belakang kepala seperti sengatan kalajengking.
Aksi ini langsung viral—bahkan sebelum era media sosial. Semua media internasional memberitakannya. Tayangan ulang aksi tersebut diputar berulang-ulang di televisi dan disorot sebagai “kegilaan yang indah”.
Yang menarik, tendangan kalajengking itu sebenarnya adalah bagian dari latihan rutin Higuita. Ia telah menciptakan teknik itu bertahun-tahun sebelumnya, hanya menunggu saat yang tepat untuk menampilkannya di hadapan dunia.
Momen itu tak hanya mengangkat nama Higuita, tapi juga menunjukkan bahwa sepak bola bisa jadi tontonan yang penuh kejutan. Bahkan lawan mainnya kala itu, Jamie Redknapp, hanya bisa tertawa dan bertepuk tangan melihat aksi tersebut.
Hingga kini, tendangan kalajengking Rene Higuita tetap dikenang sebagai simbol keberanian, kreativitas, dan hasrat untuk menciptakan sesuatu yang baru di dunia sepak bola.
Karier Internasional dan Kontroversi di Piala Dunia
Rene Higuita memperkuat Tim Nasional Kolombia dalam lebih dari 60 pertandingan internasional. Salah satu momen paling diingat tentu saat Piala Dunia 1990 di Italia, di mana Kolombia tampil mengesankan.
Sayangnya, Higuita juga dikenal karena blunder fatal saat pertandingan melawan Kamerun. Ia keluar dari gawang dan kehilangan bola, yang kemudian dimanfaatkan Roger Milla untuk mencetak gol kemenangan. Kesalahan itu membuat Kolombia tersingkir dan menjadi noda dalam karier gemilang Higuita.
Namun publik tidak membencinya. Justru, banyak yang menganggap kesalahan itu sebagai bagian dari risiko seorang pemain yang berani berbeda. Bagi sebagian fans, kegagalan Rene Higuita itu justru memperkuat citra “kiper gila” yang tak takut menanggung akibat dari pilihannya.
Setelah Piala Dunia, ia sempat vakum karena tersandung kasus hukum, namun kembali lagi ke lapangan dengan semangat yang tak padam. Ia bahkan masih bermain hingga usia 40-an, membuktikan cintanya pada sepak bola tak pernah luntur.
Warisan dan Pengaruh Rene Higuita bagi Sepak Bola Dunia
Hingga hari ini, banyak kiper muda yang mengaku terinspirasi oleh Rene Higuita. Ia membuka jalan bagi peran kiper modern yang tidak lagi sekadar menjaga gawang, tetapi juga ikut membangun serangan. Tanpa Higuita, mungkin tidak akan ada Neuer, Ederson, atau ter Stegen dengan gaya “sweeper-keeper”-nya.
Di Kolombia, ia dihormati sebagai legenda. Bahkan setelah pensiun, ia tetap aktif dalam dunia sepak bola sebagai pelatih kiper dan pembicara motivasi. Ia sering mengatakan kepada para pemain muda: “Jangan takut jadi berbeda. Itulah yang membuatmu dikenang.”
Warisannya bukan hanya dalam bentuk aksi dan teknik, tapi juga mentalitas: keberanian untuk tampil beda, menghadapi kritik, dan tetap berpegang pada jati diri.
Dunia sepak bola berutang banyak pada pemain seperti Higuita—yang menjadikan pertandingan lebih dari sekadar skor. Ia memberi warna, cerita, dan hiburan sejati bagi para penonton.
Rene Higuita di Era Digital dan Kehidupan Pasca-Pensiun
Meski telah pensiun, Rene Higuita tetap menjadi tokoh publik yang aktif. Di media sosial, ia berbagi kenangan, komentar tentang sepak bola modern, dan tentu saja nostalgia tentang tendangan kalajengking yang legendaris itu.
Bahkan generasi muda yang tak pernah menyaksikannya bermain secara langsung pun mengenalnya melalui video viral yang terus beredar. Ia menjadi simbol keabadian dalam dunia sepak bola—bahwa satu aksi luar biasa bisa membuat seseorang dikenang selamanya.
Higuita kini hidup tenang bersama keluarganya, namun semangat “kegilaannya” tetap menyala. Ia menjadi panutan bukan hanya bagi kiper, tapi bagi siapa saja yang ingin berani tampil beda dalam hidup.
Melalui berbagai seminar, wawancara, dan posting-an media sosial, ia terus menyebarkan pesan bahwa keberanian dan keunikan adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Kesimpulan
*Apa pendapat kamu tentang aksi kalajengking Higuita? Apakah masih layak disebut sebagai salah satu momen paling gila dalam sejarah sepak bola?



















